ZAMAN REALISME DAN ZAMAN RATIONALISME DI YUNANI


ZAMAN REALISME DAN ZAMAN RATIONALISME

Oleh:
Marinus Heluka 
Mahasiswa Pendidikan Sejarah 
Universitas Syiah Kuala
Kota Banda Aceh
2020



Zaman Realime mucul sekitaran akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17. Zaman ini tidak sependapat dengan pemikiran-pemikiran yang terdahulu seperti Humanisme dan lain sebagainya. Berikut pembahasannya.
Aliran realisme berpandangan bahwa hakikat realitas adalah fisik dan roh yang  bersifat dualistis yaitu hal fisik dan rohani, dalam pendidikan ada subjek  yang mengetahui tentang manusia dan alam. Kajian yang mendalam mengenai realisme ini lebih cenderung kepada politik, namun beberapa subjek membahas mengenai pendidikan. Realisme pendidikan  dipelopori oleh beberapa orang filosuf diantaranya David Hume, John Stuart Mill.

Terdapat dua jenis istilah yang ada dalam paham Realisme, yaitu:
  1. Realisme  langsung, yaitu paham realisme yang berpendapat bahwa yang kita sadari secara langsung, atau  yang kita cerap secara indrawi dan yang diketahui adalah objek fisik itu sendiri dan bukan hanya  gagasan atau representasi kita tentang objek tersebut. Kehadiran objek fisik tidak diinferensikan dari gejala lain yang langsung kita alami dan ketahui.
  2. Realisme tak langsung, yaitu paham yang berpendapat bahwa kita tidak secara  langsung mengetahui objek fisik sendiri, tetapi hanya melalui representasi kita tentang objek  tersebut (representasionalisme) atau hanya melalui gejala yang menampakkan diri kepada kita  (fenomenalisme). Objek fisik atau benda pada dirinya sendiri tak dapat kita ketahui secara langsung. Realisme tidak lansung berpendapat bahwa yang pertama dikenal ialah objek yang imanen, gambar kenyataan dalam kesadaran. Dalam realisme tidak langsung ini  tersembunyi benih idealisme, karena gambar yang pertama dilihat baru kemudian kenyataan itu  sendiri. Titik tolak realisme tidak langsung membuat oposisi antara pohon sebagai gambar (objek  yang imanen) dan Setiap aliran pasti mempunyai konsep tersediri, adapun konsep filsafat menurut aliran realisme ini adalah:
  1. Metafisika-realisme; Kenyataan yang sebenarnya hanyalah kenyataan fisik (materialisme); kenyataan material dan imaterial (dualisme), dan kenyataan yang terbentuk dari berbagai kenyataan (pluralisme);
  2. Humanologi-realisme; Hakekat manusia terletak pada apa yang dapat dikerjakan. Jiwa merupakan sebuah organisme kompleks yang mempunyai kemampuan berpikir
  3.  Epistemologi-realisme; Kenyataan hadir dengan sendirinya tidak tergantung pada pengetahuan dan gagasan manusia, dan kenyataan dapat diketahui oleh pikiran. Pengetahuan dapat diperoleh melaluipenginderaan.  Kebenaran pengetahuan dapat dibuktikan dengan memeriksa kesesuaiannya dengan fakta;
  4. Aksiologi-realisme; Tingkah laku manusia diatur oleh hukum-hukum alam yang diperoleh melalui ilmu, dan pada taraf yang lebih rendah diatur oleh kebiasaan-kebiasaan atau adat-istiadat yang telah teruji dalam kehidupan.
 Dalam hubungannya dengan pendidikan, pendidikan harus universal, seragam, dimulai sejak pendidikan yang paling rendah, dan merupakan suatu kewajiban. Pada tingkat pendidikan yang paling rendah, anak akan menerima jenis pendidikan yang sama. Pembawaan dan sifat manusia sama pada semua orang. Oleh karena itulah, metode, isi, dan proses pendidikan harus seragam. Namun, manusia tetap berbeda dalam derajatnya, di mana ia dapat mencapainya. Oleh karena itu, pada tingkatan pendidikan yang paling tinggi tidak boleh hanya ada satu jenis pendidikan, melainkan harus beraneka ragam jenis pendidikan. Inisiatif dalam pendidikan terletak pada pendidik bukan pada peserta didik. Materi atau bahan pelajaran yang baik adalah bahan pelajaran yang memberi kepuasan pada minat dan kebutuhan pada peserta didik.
Namun, yang paling penting bagi pendidik adalah bagaimana memilih bahan pelajaran yang benar, bukan memberikan kepuasan terhadap minat dan kebutuhan pada peserta didik. Implikasi filsafat pendidikan realisme adalah sebagai berikut:
  1. Tujuan: penyesuaian hidup dan tanggung jawab sosial;
  2. Kurikulum: komprehensif mencakup semua pengetahuan yang berguna berisi pentahuan umum dan pengetahuan;
  3. Metode: Belajar tergantung pada pengalaman baik langsung atau tidak langsung. Metodenya harus logis dan psikologis. Metode pontiditioning (Stimulua- Respon) adalah metode pokok yang digunakan;
  4. Peran peserta didik adalah menguasai pengetahuan yang handal dapat dipercaya. Dalam hal disiplin, peraturan yang baik adalah esensial dalam belajar. Disiplin mental dan moral dibutuhkan untuk memperoleh hasil yang baik;
  5.  Peranan pendidik adalah menguasai pengetahuan, terampil dalamteknik mengajar dan dengan keras menuntut prestasi peserta didik.
Menurut Cahya Suryan dalam “Pendidikan Menurut Aliran Filsafat Idealisme dan Realisme: Implikasinya dalam Pendidikan Luar Sekolah.” Dunia pendiikan meiliki pandangan realisme yang erat dengan pemikiran dari John Locke bahwa asal mula danya meikiran dan akal mula manusia dalah sebuah tabula rasa, manusia diibaratkan sebgaai kertas putih yang kosong dan dapat diisi dengan beberapa elemen kehidupan dari lingkungan sekitar. (Gandhi, 2017: 143). Dengan hal ini dapat dikatakan manusia mencari ilmu pengetahuan untuk dapat melakukan proses berpikir yang sesuai dengan melihat mengamati lingkungan sekitar. Hal ini membuat pandangan realisme dapat dikaitkan dengan pendekatan psikologi behaviorisme dalam bidang pendidikan. Sedangkan pokok pemikiran Aristoteles dalam bidang pendidikan adalah dengan menyertakan fakta-fakta di lingkungan sekitar yang dapat di tangkap oleh alat indera merupakan cara untuk mendapatkan pengetahuan dan kebenaran. Akan tetapi apabila di kaitkan dengan pendidikan tinggi dimana manusia dituntut untuk berpikir secara abstrak. Hal ini aristoteles mendukung pemikiran dari Plato bahwa putra putri bangsa sebaiknya menempuh pendidikan sesuai dengan kemampuan kognitif mereka, dan doktrin Plato megaskan tentang keberadaan indivisual seseorang. Seseorang yang memiliki pemikiran abtrak dapat mempelajari adanya kedisiplinan yang merupakan sesuatu yang penting dan bermanfaat dalam mengajarkan kepada putra putri bangsa agar patuh dengan peraturan yang ada dan dapat mendorong keinginan hati mereka sendiri yang sesuai dengan niali dan norma di negara tersebut (Gandhi, 2017:115).
3 Pendidikan Realisme dalam pendidikan luar sekolah
Dengan memperhatikan implikasi filsafat pendidikan idealisme maka penyelenggaraan
pendidikan luar sekolah dapat dikembangkan dengan memperhatikan prinsip-prinsip
sebagai berikut:
  1. Tujuan program pendidikan PLS terfokus agar peserta didik dapat menyesuaikan diri secara tepat dalam hidup. Disamping itu, peserta didik diharapkan dapat melaksanakan tanggung jawab sosial dalam hidup bermasyarakat.
  2. Kurikulum komprehensif yang berisi semua pengetahuan yang berguna dalam penyesuaian diri dalam hidup dan tanggung jawab sosial. Kurikulum berisi unsur-unsur pendidikan umum untuk mengembangkan kemampuan berpikir dan pendidikan praktis untuk kepentingan bekerja.
  3. Semua kegiatan belajar berdasarkan pengalaman baik langsung maupun tidak langsung. Metode mengajar hendaknya bersifat logis, bertahap dan berurutan. Pembiasaan (pengkondisian) merupakan sebuah metode pokok yang dapat dipergunakan dengan baik untuk mencapai tujuan pendidikan.
  4. Dalam hubungannnya dengan pengajaran, peranan peserta didik adalah penguasaan pengetahuan yang handal sehingga mampu mengikuti perkembangan Iptek. Dalam hubungannya dengan disiplin, tatacara yang baik sangat penting dalam belajar. Artinya belajar dilakukan secara terpola berdasarkan pada suatu pedoman. Peserta didik perlu mempunyai disiplin mental dan moral untuk setiap tingkat kebaikkan. Peranan pendidik adalah menguasai pengetahuan, keterampilan teknik-teknik pendidikan dengan kewenangan untuk mencapai hasil pendidikan yang dibebankan kepadanya.

Setiap aliran-aliran yang seperti ini pasti memiliki tokoh-tokoh yang berpengaruh dari berbagai sudut pandang, sama halnya dengan aliran realisme ini. adapun tokoh-tokoh dari aliran realisme ini adalah:
  1. Aristoteles
Pada dasarnya, metode logika Aristoteles adalah deduktif; yaitu, itu berasal dari kebenaranya dari keumuman, seperti “semua manusia musnah”.  Satu permasalahan dengan metode ini ialah bahwa jika dasar pikiran/premis pokok adalah kesalahan maka kesimpulannya akan menjadi salah. Sebuah temuah yang berasal dari penentuan kebenaran pada pokok dasar pemikiran; Dengan metode apakah kita bisa mengujinya dengan akurat? Jika kita melanjutkan menggunakan silogisme, kita juga harus terus menyandarkan diri pada dasar pemikiran umum yang tak-terbukti. Metode logika Aristoteles menemui perbedaan dengan desakanya yang mana kita pahami lebih baik dari (prinsip umum) dengan mempelajari objek-objek materi ilmiah.

Dalam contoh berikut ini, kebenaran Arisototeles adalah induktif; yaitu, kita menemukan kebenaran dengan cara-cara tertentu atau sebuah proses berasal dari hal-hal yang khusus ke yang lebih umum. Silogismenya, bagaimanapun berasal dari keumuman (semua manusia musnah) ke kesimpulan yang khusus (Socrates mati/musnah). Masalah metode logika ini merupakan kayu penghalang bagi para pemikir (ilmuan) selama berabad-abad. Pendekatan silogistis membimbing pada sejumlah kesalahan atau posisi yang tak dapat dipertahankan. Tidaklah hingga abad ke-16 tatkala Francis Bacon menemukan sebuah pendekatan induktif yang lebih cocok.
Pangkal kebaikan menurut Aristoteles adalah kebahagiaan; bagaimanapun, kebaikan itu terbebas dari jiwa yang teratur secara baik-berbudi luhur. Hal ini bisa terjadi hanya karena kita mengembangkan kebiasaan-kebiasaan atau budi luhur yang dibentuk melalui jenis pendidikan yang utama. Pendidikan mengharuskan perkembangan/ kemajuan dari kapasitas pemikiran kita oleh karena itu kita bisa membuat jenis-jenis pilihan yang benar. Seperti yang sudah ditandakan, ini adalah sarana langkah/jalan pada moderisasi. Sebuah penerimaan dan mengikuti sebuah prinsip semacam ini menjadi inti dari proposal-proposal edukasional Aristoteles. Meskipun, Aristoteles tidak mempelajari kejelasan ilmiah tentang gagasan-gagasan edukasional miliknya, dia merasa bahwa sifat utama akan terbentuk dengan mengikuti Arti Yang Bermakna. 
Ini akan menghasilkan perkembangan sosial yang diinginkan dan akan menolong Negara dalam menghasilkan dan memilahara warganya yang baik. Dalam bidang politik, Aristoteles lebih jauh mengembangkan pandanganya bahwa ada hubungan timbal-balik antara orang yang terdidik secara tepat dan warga Negara yang terdidik secara tepat. Pengaruh faham Aristoteles adalah sebuah kepentingan luas dan mencakup semacam hal-hal seperti pengenalan kebutuhan untuk mempelajari alam secara sistematis menggunakan proses-proses logika dalam pikiran, menghasilkan kebenaran-kebenaran umum melalui sebuah pembelajaran keras pada particular-partikular tertentu, dan menekankan aspek-aspek rasional pada alam manusia.

  1. Thomas Aquinas (1225-1274)
Thomas Aquinas lahir dekat Napoli, Italia pada tahun 1225. pendidikan formalnya dimulai pada saat berumur lima tahun ketika dia dikirim ke kerajaan Benedictin di Monte Casino. Lalu, dia belajar di Universitas Napoli dan pada tahun 1244 dia menjadi seorang biarawan Dominican, mengabdikan kehidupannya untuk beribadah. Hidup dalam kemiskinan dan pekerja keras intelektual. Pada tahun 1245 dia dikirim ke Universitas di Paris, disana dia belajar dibawah bimbingan Albertus Magnus, seorang cendikiawan pengikut folosofi Aristoteles yang terkenal. Dia belajar dan mengajar pada Universitas di Paris hingga tahun 1259, ketika orang-orang Dominic mengirimnya kembali ke Italia untuk membantu mengatur kurikulum bagi sekolah-sekolah Dominic. Dia kembali lagi ke Paris pada tahun 1268 dan dia dikenal dan diingat dalam kehidupanya sebagai seorang Profesor teologi dan sebagai seorang pemimpin eduakatif bagi orang-orang Dominic. Dia meninggal pada tanggal 7 maret tahun 1274.
Aquinas meyakini Tuhan menciptakan materi bukan dari satu apapun dan Tuhan, sebagai mana yang telah Aristoteles tetapkan, adalah Penggerak Yang Tak-Bergerak yang memberikan arti dan tujuan kepada alam semesta. Dalam karya m onumentlnya, Summa Theologica, dia mengumpulkan pendapat-pendapat yang setuju dengan agama Kristen. Dia menggunakan pendekatan rasional yang diusulkan/ditegaskan oleh Aristoteles dalam menganalisa dan mencocokan dengan pertanyaan-pertanyaan keagamaan yang variatif. Sebagai buktinya, banyak pendapat-pendapat yang mendukung dalam agama Kristen adalah henar-benar berasal darinya, tanpa memperhatikan pada cabang apa dalam agama Kristen didasarkan. Katolik Roma menganggap pemikiran Thomas sebagai filosofi utama.
Aquinas sepaham dengan Aristoteles bahwa kita datang ke alam semesta dengan sebuah pembelajaran tertentu. Dia menerima tesis kebebasan dan “bentuk” sebagai prinsip cirri dari semua wujud. Dia menjunjung tinggi “Prinsip Keberadaan” Yang sama dengan pandangan Aristoteles  pada setiap eksistensi yang bergerak menuju kesempurnaan dalam bentuk (isi). Sedangkan dia menyetujui bahwa jiwa adalah bentuk dari badan, dia berpegangan bahwa jiwa bukan berasal dari akar-akar biologis manusia. 
Pusat pemikiran Aquinas adalah pemikiran Nasrani “bahwa setiap kita dilahirkan dengan jiwa yang abadi” meneruskan pemikiran idealisme Platonis sama baiknya dengan pemikiran relisme pengikut Aristoteles, dia berpendapat bahwa jiwa memiliki sebuah pengetahuan dalam yang hanya bisa dikeluarkan untuk menjelaskan kehidupan manusia lebih lengkap. Tujuan utama dari pendidikan, seperti Aquinas melihat itu, adalah kesempurnaan manusia dan reuni terakhir jiwa manusia dengan tuhan. Untuk mengembangkan ini, kita harus mengembangkan kapasitas akal dan melatih kesadaran (intelegen). Dari sudut pandang tentang guru manusia, jalan bagi jiwa untuk bersandar melalui indera fisiknya, dan pendidikan harus menggunakan jalan ini untuk menyempurnakan pembelajaran. Petunjuk-petunjuk yang dapat menunjukkan pelajar pada pelajaran yang menghantarkan pada wujud yang benar dengan kemajuan dari yang rendah kebentuk yang lebih tinggi. Ini mengilustrasikan Aquinas sebagai aliran Aristoteles, karena pandangannya mencakup sebuah perkembangan kosmologi yang maju dari yang lebih rendah ke yang lebih tinggi. Atau pergerakan menuju kesempurnaan. 
Dalam pandangan Aquinas perantara utama dalam pendidikan adalah keluarga, gereja, sedangkan Negara atau masyarakat yang diatur memerankan pihak ketiga yang lemah. Keluarga dan gereja mempunyai sebuah kewajiban untuk mengajarkan hal-hal yang berhubungan dengan prinsip moral yang baik dan hukum ketuhanan. Ibu adalah guru pertama sang anak karena anak mudah dicetak dan dibentuk. Itu adalah tugas ibu dalam membentuk moral anak. Gereja berdiri sebagai sumber pengetahuan pada ketuhanan, dan harus membentuk lahan untuk memmahami hukum-hukum tuhan. Negara harus merumuskan dan menyelenggarakan undang-undang dalam pendidikan, tapi itu tidak seharusnya membatasi keutamaan pendidikan di rumah dan di gereja.baik Ariestoteles dan Acquinas berpegangan pada doktrin realitas dualistik ini bisa dilihat dalam gagasan Ariestoteles  tentagn materi dan bentuk dan pandangan Aquinas pada sisi material dan sisi spiritual pada manusia,dualisme ini kemudian berlanjut dalam konflik yang besar antara sebuah pandangan ilmiah dan religious tentang realitas. 
Latar belakang munculnya rasionalisme adalah, keinginan untuk membebaskan diri dari segala pemikiran tradisional (skolastik; skolastik adalah kata sifat yang berasal dari kata school yang berarti sekolah. Jadi, skolastik yang berarti aliran yang berkaitan dengan sekolah, perkataan skolastik merupakan corak khas dari sejarah filsafat abad pertengahan), yang pernah diterima, tetapi ternyata tidak mampu menangani hasil-hasil ilmu pengetahuan yang dihadapi. Apa yang ditanam Aristoteles dalam pemikiran saat itu juga masih dipengaruhi oleh khayalankhayalan. Descartes menginginkan cara yang baru dalam berpikir, maka diperlukan titik tolak pemikiran pasti yang dapat ditemukan dalam keragu-raguan, cogito ergo sum (saya berpikir maka saya ada).
Rasio adalah pemikiran menurut akal yang sehat. Rasio adalah noun hubungan taraf atau bilangan antara dua hal yang mirip; perbandingan antara berbagai gejala yang dapat dinyatakan dengan angka. Rasionalis adalah orang yang menganut paham rasionalisme. Rasionalisme adalah teori atau paham yang menganggap bahwa pikiran dan akal merupakan satu-satunya dasar untuk memecahkan problem (kebenaran) yang lepas dari jangkauan indra; paham yang lebih mengutamakan (kemampuan) akal dari pada emosi, batin dan sebagainya. 
Rasionalisme adalah aliran filsafat ilmu yang berpandangan bahwa otoritas rasio (akal) adalah sumber dari segala pengetahuan. Dengan demikian, kriteria kebenaran berbasis pada intelektualitas. Jadi strategi pengembangan ilmu menurut paham rasionalisme adalah mengekplorasi gagasan-gagasan dengan menggunakan kemampuan intelektual manusia. perintis awal aliran rasionalisme ialah Heraclitus, yang meyakini akal melebihi pancaindera sebagai sumber ilmu. Menurut beliau akal manusia boleh berhubung dengan akal ketuhanan yang memancarkan sinaran cahaya tuhan dalam diri manusia. Thales menerapkan rasionalisme dalam filsafatnya . Ini dilanjutkan dengan jelas sekali pada orang-orang sofis dan tokohtokoh penentangnya (Socrates, Plato dan Aristoteles).

2. Rasionalisme Terhadap Ilmu Pengetahuan
Rasionalisme, adalah suatu dasar kebenaran karena rasionalisme diambil dari kata rasio yang berarti benar. Kebenaran ini menitipberatkan pada akal budi atau rasio. Manusia menggunakan akalnya untuk berfikir dan menangkap suatu pengetahuan yang ada. Aliran ini
meyakini akan adanya kebenaran dari akal manusia dan tak mungkin kebenaran itu didasarkan pada suatu kebohongan, karena yang menjalankan adalah akal, dan akal merupakan suatu ciptaan Allah yang diberikan kepada manusia dan tak mungkin adanya suatu kebohongan. Rasionalisme memerupakan suatu liran epistimologi yang menjadikan akal (rasio) sebagai sumber dari segala pengetahuan. Menurut aliran ini, suatu pengetahuan diperoleh dengan cara berfikir. Selain menjadi sumber pengetahuan, akal juga digunakan untuk mengetes pengetahuan. Dalam hal ini akal akan menyeleksi apa sesuatu bisadikatakan suatu pengetahuan atau tidak. 
Dengan kekuasaan akal tersebut, orang berharap akan lahir suatu dunia baru yang lebih sempurna, dipimpin dan dikendalikan oleh akal sehat manusia. Dalam bidang filsafat, rasionalisme adalah lawan dari empirisme dan sering digunakan dalam menyusun teori pengetahuan. Hanya saja, empirisme menjelaskan bahwa pengetahuan diperoleh dengan jalan mengetahui objek empirisme, sedangkan rasionalisme mengajarkan bahwa pengetahuan diperoleh dengan cara berfikir, pengetahuan dari empirisme dianggap sering menyesatkan. Adapun alat berfikir adalah kaidah-kidah yang logis. Jadi, kalau demikian rasioalisme dan emperisme harus selalu disatukan, agar senantiasa saling melengkapi antara satu dengan yang lain. Seperti kita ketahui bahwa Logika adalah kaidah-kaidah berfikir. Subyeknya
Rasionalisme adalah paham filsafat yang mengatakan bahwa akal (reason) adalah alat terpenting dalam memperoleh pengetahuan. Jika empirisme mengatakan bahwa pengetahuan diperoleh dengan alam mengalami objek empiris, maka rasionalisme mengajarkan bahwa pengetahuan diperoleh dengan cara berpikir. Alat dalam berpikir itu ialah kaidah-kaidah logis atau kaidah-kaidah logika. Dalam aliran rasionalisme ada dua macam bidang, yaitu bidang agama dan bidang filsafat. Dalam bidang agama rasionalisme adalah lawan autoritas, dan biasanya digunakan untuk mengkritik ajaran agama. Sementara dalam bidang filsafat rasionalisme adalah lawan empirisme dan terutama berguna sebagai teori pengetahuan. Sebagai lawan empirisisme, rasionalisme berpendapat bahwa sebagian dan bagian penting pengetahuan datang dari penemuan akal.
Contoh yang paling jelas ialah pemahaman kita tentang logika dan matematika. Kelemahan rasionalisme adalah memahami objek di luar cakupan rasionalitas sehingga titik kelemahan tersebut mengundang kritikan tajam, sekaligus memulai permusuhan baru dengan sesama pemikir filsafat yang kurang setuju dengan sistem-siste filosofis yang subjektif tersebut, doktrindoktrin filsafat rasio cenderung mementingkan subjek daripada objek, sehingga rasionalisme hanya berpikir yang keluar dari akal budinya saja yang benar, tanpa memerhatikan objek – objek rasional secara peka.

3.Tokoh-tokoh Aliran Rasionalisme 
Adapun tokoh-tokoh dari aliran ini adalah:
  1. Rene Descartes ( 1596-1650 )
Rene Descartes lahir di La Haye, Prancis, 31 Maret 1596 dan meninggal di Strockholm, Swedia, 11 Februari 1650. Descartes biasa dikenal sebagai Cartecius. Ia adalah seorang filsuf dan matematikawan Prancis., merupakan orang pertama yang memiliki kapasitas filosofis yang sangat dipengaruhi oleh fisika baru dan astronomi. Ia banyak menguasai filsafat Skolastik, dan minat elit ini pada masalah metafisika Skolastik, namun ia tidak menerima dasar-dasar filfasat Skolastik yang dibangun oleh para pendahulunya. Ia berupaya keras untuk mengkonstruksi bangunan baru filsafat. 
Dia berhasrat untuk menemukan “sebuah ilmu yang sama sekali baru pada masyarakat yang akan memecahkan semua pertanyaan tentang kuantitas secara umum, apakah bersifat kontinim atau terputus.”Visi Descartes telah menumbuhkan keyakinan yang kuat pada dirinya tentang kepastian pengetahuan ilmiah, dan tugas dalam kehidupannya adalah membedakan kebenaran dan kesalahan dalam semua bidang pelajaran. Karena menurutnya “semua ilmu merupakan pengetahuan yang pasti dan jelas.
Descartes menggunakan metode “Deduksi”, yaitu dia mededuksikan prinsip-prinsip kebenaran yang diperolehnya kepada prinsip-prinsip yang sudah ada sebelumnya yang berasal dari definisi dasar yang jelas. Sebagaimana yang ditulis oleh Robert C. Solomon dan Kathleen M. Higgins dalam buku sejarah filsafat,“kunci bagi deduksi keseluruhan Descartes akan berupa aksioma tertentu yang akan berfungsi sebagai sebuah premis dan berada diluar keraguan. Dan aksioma ini merupakan klaimnya yang terkenal Cogito ergo sum “Aku berpikir maka aku ada”. 
        
  1. Icholas Malerbranche (1638-1775)
Orang Perancis yang bernama Nicholas Malerbranche (1638-1775) berusaha untuk mendamaikan filsafat yang dirintis Descrates dengan pemikiran kristiani, terlebih pemikiran Augustinus. Tentang masalah substansi, ia mengikuti ajaran Descartes bahwa ada dua substansi yaitu pemikiran dan keluasan. Tetapi tentang hubungan jiwa dan tubuh ia mempunyai pemecahan tersendiri pendirinya dalam bidang ini biasannya dinamakan.
Okasionalisme (Occasion=kesempatan). Ia mempertahankan dengan tegas bahwa jika tidak dapat mempengaruhi tubuh dan sebagainya. Tetapi pada kesempatan terjadinnya perubahan dalam tubuh, Allah menyebabkan perubahan yang sesuai dengannya dalam jiwa, dan sebaliknya. Seperti pada kesempatan tangan saya terbakar api, maka Allah mengakibatkan rasa sakit dalam jiwa, selanjutnya pula jika saya ingi mengulurkan tangan saya (peristiwa dalam jiwa), maka Allahmenyebabkan bahwa tangan saya benarbenar diulurkan. Tetapi ini tidak berarti bahwa dalam tiap-tiap kasus anggapan, Allah harus campur tangan secara khusus. Menurut Malebranche bahwa Allah seabagi Penyebab, hal ini sudah ditetapkan oleh hukum yang telah ditentukan satu kali untuk selamanya.

  1. Baruch de Spinoza (1632-1677)
Baruch de Spinoza lahir di Amsterdam pada 24 November 1632 . Ia berasal dari keluarga yang menganut agama Yahudi , yang melarikan diri dari Spanyol ke Amsterdam (Belanda) akibat konflik keagsmaan . Ayahnya seorang pedagang kaya raya. Ia merupakan filsuf Belanda yang fenomenal setelah dia menggugat salah satu pemikiran Descartes mengenai apa sesungguhnya dunia ini ? Sebagai keturunan Yahudi yang berpikiran ortodoks, hingga akhirnya ia dibuang dan dikucilkan. Meski begitu, buah pikirannya cukup mengagumkan bagi banyak orang yang menaruh perhatian terhadap kajian – kajian filsafat dan ilmu pengetahuan. Spinoza banyak dipengauhi rasionalisme Descartes Dalam pemikiran sosial dan intelektual pada zamannya, seperti Descartes dia juga ingin menemukan pegangan yang pasti bagi segala bentuk pengetahuan. Descartes menemukan konsep dasar pemikirannya adalah Cogito, Spinoza menemukannya pada konsep subtansi. Menurut Spinoza.
Pemikiran Spinoza yang terkenal adalah ajaran mengenai Substansi tunggal Allah atau alam. Hal ini ia katakan karena baginya Tuhan dan alam semesta adalah satu dan Tuhan juga mempunyai bentuk yaitu seluruh alam jasmaniah. Pengetahuan Menurut Spinoza, ada tiga taraf pengetahuan, yaitu berturut-turut: taraf persepsi indrawi atau imajinasi, taraf refleksi yang mengarah pada prinsipprinsip dan taraf intuisi. Hanya taraf kedua dan ketigalah yang dianggap pengetahuan sejati. Dengan ini, Spinoza menunjukkan pendiriannya sebagai seorang rasionalis. Pendiriannya dapat dijelaskan demikian, menurutnya sebuah idea berhubungan dengan ideatum atau obyek dan kesesuaian antara idea dan ideatum inilah yang
disebut dengan kebenaran. Dia membedakan idea ke dalam dua macam, yaitu idea yang memiliki kebenaran intrinsik dan idea yang memiliki kebenaran ekstrinsik. Idea yang benar
secara intrinsik menurutnya memiliki sifat “memadai”, sedangkan idea yang benar secara ekstrinsik disebutnya “kurangmemadai”. Misalnya, anggapan bahwa matahari adalah bola raksasa yang panas sekali pada pusat tata surya lebih “memadai” dari pada anggapan bahwa
matahari adalah bola merah kecil. Memadai atau tidaknya suatu idea, tergantung dari modifikasi badan yang mengamatinya, dan modifikasi ini menyertai pula modifikasi mental. Jadi, karena kita mengamatinya dari jauh, maka matahari tampak kecil. Teori pengetahuannya pada akhirnya menyarankan bahwa setiap idea adalah cermin proses-proses fisik dan sebaliknya setiap proses fisik adalah perwujudan idea.

  1. G.W. Leibniz (1646-1716)
Gottfried W. Leibniz lahir pada tanggal 1 Juli 1646 di Leipzig, Jerman. Putra dari Friedrich Leibniz, seorang professor filsafat moral di Leipzig, Jerman. Friedrich Leibniz berkompeten di bidangnya walaupun pendidikannya tidak tinggi, ia mencurahkan waktu untuk keluarga dan pekerjaannya. Beliau menuliskan karyanya dalam bahasa Latin, danBahaa Prancis, seorang ensiklopedis (orang yang mengetahui segala lapangan pengetahuan
pada masanya) Salah satu pemikiran Gottfried Wilhelm Liebniz ialah tentang subtansi. Menurutnya ada banyak substansi yang disebut dengan monad (monos= satu; monad= satu unit) jika dalam matematika yang terkecil adalah titik, dan dalam fisika disebut dengan
atom, maka dalam metafisika disebut dengan monad, terkecil dalam pendapat leibniz bukan berarti sebuah ukuran, melainkan sebagai tidak berkeluasan, maka yang dimaksud dengan monad bukan sebuah benda. Setiap monad berbeda satu dari yang lain dan Tuhan (Supermonad dan satu-satunya monad yang tidak dicipta) adalah pencipta monad-monad itu. Monad tidak mempunyai kualitas. Karenanya hanya Tuhan Yang benar-benar mengetahui setiap monad agar Tuhan membandingkan dan memperlawankan monad-monad itu.

  1. Christian Wolff (1679-1754)
Christian Wolff adalah seorang filsuf Jerman yang berpengaruh besar dalam gerakan rasionalisme sekular di Jerman pada awal abad ke-18. Wolff adalah Filosuf yang paling terkenal pada masa pencerahan Jerman. Ia menjadi guru Besar Matematika di Halle, menyebar luaskan ide-ide Leibniz. Wolff tidak mempunyai pokok-pokok ajarannya sendiri 20 Meskipun Wolff berasal dari keluarga Luteran, namun pendidikannya di sekolah Katolik membuatnya mengenal pemikiran Aquinas dan Suerez Studinya di Leipzig membuat Wolff berkenalan dengan pemikiran Leibniz dan sempat berkirim surat dengan filosuf tersebut. Wolff menyadur Filsafat Leibniz dan menyusunnya menjadi satu system .
Sistem pemikiran Wolff, dikenal sebagai sistem Leibnizyang menjadi dasar pemikiran filsafat Jerman abad ke-18 sampai pada zaman Kant. Meskipun ada penyimpangan dari Leibniz, akan tetapi Pemikiran Wolff pada dasarnya merupakan pengembangan dari filsafat Leibniz dengan menerapkannya terhadap segala bidang ilmu pengetahuan Pada tahun 1706, Wolff mengajar matematika di Halle dan pada tahun 1709, ia mulai mengajar filsafat.Ia meninggal pada tahun 1754. 
  1. Blaise Pascal (1623-1662)
Dari antara filosuf rasionalis zaman Descartss; Blaise Pascal berasal dari Prancis. Lahir tahun 1623 Ayahnya adalah ketua Courdes Aides di Clermont seorang penarik pajak di Wilayah Auvergne. Prancis. Sejak kecil dia sudah menunjukkan kecerdasannnya, konon dia
tidak pernah mengunjungi sekolah resmi dan dididik ayahnya secara ketat memiliki kecenderungan yang berbeda dengan yang lainnya. Sementara rekan-rekan lainnya menekankan rasio melebihi dari iman, menegaskan bahwa iman dan wahyu dapat mengatasi situasi manusia, bahkan sebaliknya Pascal menekankan iman melebihi rasio. Ia memiliki minat utama ialah agama dan filsafat, sedangkan hobinya yang lain adalah matematika, fisika dan geometri proyektif, dan dikemudian hari menjadi salah seorang tokoh dalam ilmu-ilmu 

 Kesimpulan
Aliran realisme berpandangan bahwa hakikat realitas adalah fisik dan roh yang  bersifat dualistis yaitu hal fisik dan rohani, dalam pendidikan ada subjek  yang mengetahui tentang manusia dan alam. Kajian yang mendalam mengenai realisme ini lebih cenderung kepada politik. Sedangkan Rasionalisme adalah aliran filsafat ilmu yang berpandangan bahwa otoritas rasio (akal) adalah sumber dari segala pengetahuan. Dengan demikian, kriteria kebenaran berbasis pada intelektualitas. Munculnya rasionalisme adalah, keinginan untuk membebaskan diri dari segala pemikiran tradisional. Dari kedua aliran ini masing-masing mempunyai tokoh-tokoh yang berpengaruh. Seperti di aliran realisme ada tokoh Aristoteles, Thomas Aquinas, sedangkan di aliran rasionalisme adanya  tokoh seperti Rene Descartes, Icholas Malerbranche, Baruch de Spinoza  dan masih banyak lagi.

Bahar Muhammad A.T: 2016, Rasionlis dan Rasionalisme dalam perspektif Sejarah.

Cahya Suryana: 2009, Pendidikan Menurut v  Aliran Filsafat Idealisme dan Realisme: Implikasinya dalam Pendidikan Luar Sekolah.

Dahlan Ahmad: 2014, Aliran Filsafat Pendidikan: Realisme

Ian Mas Rifati: 2018, Realisme dalam Filsafat Pendidikan

Alexander Jannes Uhi: 2009, Pengembangan Epistimologi Realisme melalui prinsip-prinsip kultural.

Murodi Fathul: 2017, Filsafat Nasionlisme (Tokoh Pemikiran).





Komentar

Postingan populer dari blog ini

PELANTIKAN BADAN PENGURUS HARIAN (BPH) HIMPUNAN MAHASISWA PAPUA-ACEH, PERIODE 2019/2020, KOTA STUDI PROVINSI ACEH.

Bangsa Papua: Mengucapkan selamat memperingati HUT RI yang ke 76 tahun.