GENERASI PAPUA: SADAR BANGKIT DAN LAWAN MIRAS YANG MERUSAK KARAKTER DAN NILAI-NILAI BUDAYA PAPUA
Pemuda adalah harapan masa depan Papua, sebab bangsa yang besar membutuhkan kualitas Sumber Daya Manusia yang handal dan berkarakter. Dan generasi Papua dari tahun 90-an dijuluki sebagai orang Cerdas, pintar dan mempertahankan nilai-nilai budaya sebagai filosofi hidup. Namun kini regenerasi Papua dikendalikan secara sistematis dan masif oleh MIRAS, sehingga kehilangan Kesadaran akan nilai-nilai budaya dan sejarah bahkan minimnya orang-orang yang berkarakter, sebab suatu bangsa dibangun berazaskan moralitas dan menanamkan nilai kultural agar generasi penerus tidak kehilangan Kesadaran akan nilai-nilai budaya sebagai identitas, Latar belakang orang asli Papua ras Melanesia sebelum bergabung ke Indonesia pada tahun 1963, menjaga nilai-nilai budaya dan adat istiadat sebagai pedoman hidup yang telah diwariskan oleh leluhur disetiap suku dan daerah yang terbagi dalam 7 wilayah adat di Papua, sehingga melestarikan dengan baik dan benar. bahkan sebelum tahun 1960-an mayoritas orang papua tidak tahu membaca dan menulis hanya beberapa orang saja yang tahu itupun yang dididik oleh Misionaris/Belanda. Meskipun pengetahuan dan keilmuan orang tua dulu memang terbatas, namun secara budaya orang tua mendidik regenerasi Papua dengan baik dan benar berdasarkan pengalaman hidup yang praktis tanpa teori, mengajarkan tentang nilai-nilai budaya, agama, kepemimpinan, sistem perkebunan dan terutama adalah mengasihi sesama manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang mulia sehingga pada saat itu regenerasi Papua yang lahir tahun 60-80-an sangat cerdas secara praktis dan tidak mengenal namanya minuman keras (MIRAS) maka kesehatan mereka tetap stabil dan sehat secara jasmani maupun Rohani. Namun ketika orang Papua di aneksasi pada tahun 1963 dan secara resmi bergabung ke negara Republik Indonesia, maka nilai-nilai budaya orang asli Papua mulai minim, sebab dianggap kuno dan didoktrin dengan budaya Jawa,Kalimantan, Sulawesi dan Sumatera yang dianggap modern, dan implementasikan dalam sisten Pendidikan Nasional di Papua disetiap sekolah dan dipaksahkan regenerasi Papua untuk belajar, sehingga sejarah dan nilai-nilai luhur orang asli Papua yang sejatinya semakin punah seacara sistematis dan masif. Untuk menghancurkan karakter, kecerdasan, kesadaran dan nilai-nilai budaya orang asli Papua maka didoktrin dengan MIRAS, sehingga regenerasi Papua sebagai harapan bangsa harus sadar, bangkit dan lawan MIRAS, sebab orang luar datang hanya untuk mengambil sumber daya alam di Papua, bukan memanusikan manusia Papua agar menjadi tuan dinegeri sendiri. Maka untuk mengambil SDA regenerasi Papua disibukan dengan MIRAS sehingga sebabnya terjadi konflik horizontal sesama orang Papua dimana-mana dan orang luar hanya tertawa dalam diam. Regenerasi Papua dari Sorong-Samarai harus bersatu dan melawan MIRAS untuk menyelamatkan Bangsa Papua.
Penulis: Marinus Heluka

Komentar
Posting Komentar