MAKALAH SEJARAH ASIA BARAT OLEH MARINUS HELUKA.
MAKALAH
SEJARAH ASIA BARAT
Dibuat untuk memperoleh nilai pada
Mata Kuliah Sejarah Asia Baratwß
Oleh:
Marinus Heluka
1706101020066
JURUSAN PENDIDIKAN SEJARAH
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SYIAH KUALA
DARUSSALAM, BANDA ACEH
2020
Kata Pengantar
Puji dan syukur, penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, atas kebaikannya yang mana ia senantiasa memberikan semangat dan kekuatan dalam hidup saya yang begitu indah.
Karena atas campur tangan Tuhan sehingga penulis dapat menyusun makalah ini dengan efesien, tak lupa juga penulis mengucapkan terimakasih kepada bapa Muhammad Haikal, S.Pd M.Pd selaku dosen pembimbing mata kuliah Sejarah Asia Barat.
Makalah ini banyak kekurangan, maka penulisan memohonn agar para pembaca memberikan saran dan kritik.
Banda Aceh, 15 Agustus 2020
Bab I
Pendahuluan
1.Latar Belakang
Perang salib merupakan sebuah peristiwa peperangan yang terjadi dalam kurun waktu kurang lebih dua ratus tahun (1096-1292 M), yang mempertemukan Umat Islam dan Kristen Eropa demi mendapatkan kekuasaan atas wilayah Baitul Maqdis (Yerusalem). Dalam serangkaian Perang Salib ini telah memunculkan peran seorang tokoh yang cukup berjasa besar peranannya dalam mempertahankan Baitul Maqdis (Yerusalem), dia adalah seorang raja dan pahlawan umat Islam yaitu Shalahudin Al Ayyubi.
Perang Salib merupakan peristiwa berdarah yang memperebutkan satu kota suci Agama Tauhid (Islam, Kristen dan Yahudi) yakni Baitul Maqdis (Jerusalem). Perang Salib juga merupakan perang terbesar sepanjang sejarah yang berlansung kurang lebih dua abad lamanya, yakni sejak tahun 1095 sampai 1291. Gelombang Perang Salib yan dicetuskan oleh pihak Kristen Eropa (Barat) terhadap Umat Muslim (Timur) karena keinginan kaum Kristen untuk menjadikan tempat Suci Umat Kristen yakni Gereja Makam Suci Kristus masuk ke dalam wilayah perlindungan mereke.
Istilah Perang Salib atau Perang Suci juga digunakan untuk ekspedisi-ekspedisi tentang Kristen yang terjadi selama abad pertengahan di wilayah Arab terhadap Non-Kristen secara berulang-ulang, mulai abad ke 11 sampai abad ke 13 (1097-1292 M), dengan misi untuk membebaskan Baitul Maqdis (Yerusalem) dari kekuasaan Islam dan mendirikan Kerajaan Kristen Eropa di Wilayah Timur.
Namun pada kenyataannya, Perang Salib terjadi karena beberapa sebab yang melatar belakanginya. Sebab-sebab yang menimbulkan terjadinya perang Salib salam 2 Abad lamanya telah melahirkan perseteruan antara umat Islam dan Kristen. Peristiwa Perang Salib terjadi karena pertama, bermula ketika kekalahan Raja Romawi Timur (Bizantium) Romonos IV Diogenes dalam perang Manzikert (26 Agustus 1071 M) menghaadapi Rurki Saljuk di bawah pimpinan Alp Arselan yang telah berhasil menguasai wilayah kekuasaan Byzantium. Dan kedua, karena propaganda seorang Pendeta yang bernama Peter the Hermit dan para peziarah yang sedang berkunjung ke Baitul Maqdis (Yerusalem) sejak 1076, telah mendapatkan perlakuan yang tidak layak oleh tentara Turki Saljuk, yang telah mengganggu para Peziarah yang mengadakan perjalanan ke tanah suci. Dan melaporkan kekacauan yang dialaminya di Baitul Maqds kepada Raja Byzantium, Alexius I Comnenus.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang, maka adapun pokok permasalahan sebagai berikut:
1 Bagaimana latar belakang terjadinya Perang Salib?
2 Bagaimana Jalannya Perang Salib?
3 Bagaimana Penyelesaian Perang Salib?
1.3 Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah, adapun tujuannya sebagai berikut:
1 untuk mengetahui latar belakang terjadinya Perang Salib
2 untuk mengetahui jalannya Perang Salib
3 untuk mengetahui penyelesaian perang Salib.
BAB II
Pembahasan
2.1 Latar Belakang Terjadinya Perang Salib
Perang salib terjadi dalam beberapa fase, setidaknya ada 2 fase. Fase pertama berlangsung antara tahun 1091 s/d 1291 M. Perang Salib kedua berlangsung antara tahun 1145 sampai dengan 1145. Perng salib pertana didasarkaan pada Khotbah Paus Urban II pada tahun 27 November 1095 pada konsili Clermont di depan para raja dan Ksatria Eropa untuk merebut kembali Kota Yerusalem yang diduduki oleh dinasti Seljud daru Turki. Momentum pendudukan atau perebutan Yerussalem oleh Dinasti Saljuq dari tangan imperium Konstain dianggap oleh paus Urban sebagai momen strategis untuk menyatukan seluruh raja-raja Kristen di Eropa yang pada saat itu cenderung berkonflik antara mereka sendiri.
Perang salib merupakan sebuah peristiwa peperangan yang terjadi dalam kurun waktu kurang lebih dua ratus tahun (1096-1292 M), yang mempertemukan Umat Islam dan Kristen Eropa demi mendapatkan kekuasaan atas wilayah Baitul Maqdis (Yerusalem). Dalam serangkaian Perang Salib ini telah memunculkan peran seorang tokoh yang cukup berjasa besar peranannya dalam mempertahankan Baitul Maqdis (Yerusalem), dia adalah seorang raja dan pahlawan umat Islam yaitu Shalahudin Al Ayyubi.
Menggambarkan perjumpaan Islam dan Kristen dalam sejarah dapat diberi dua warna yang mencolok yakni warna cerah yang meliputi kehidupan bersama dalam hubungan yang damai, saling percaya dan memperkaya. Warna yang kedua warna kelam yang meliputi pertentangan, kecurigaan, permusuhan bahkan perang. Kedua warna ini lahir sebagai konsekwensi dari interaksi yang tak terhindarkan dan sadar atau tidak, dialami oleh kedua belah pihak.
Perluasan kekuasaan Islam dengan cara militer (perang) sampai ke daerah-daerah Kristen seperti pendudukan Spanyol bagian selatan dan daerah-daerah di Italia, antara lain Sisilia atau Perancis bagian selatan menimbulkan konsekwensi-konsekwensi tertentu, misalnya saja tersingkirnya kekuasaan lama oleh penguasa baru. Di Spanyol bangsawan Visighot terpaksa melarikan diri setelah pendudukan Dinasti Islam atas Spanyol. Namun dipihak lain sebuah kehidupan antarbudaya dan antaragama tidak dapat dielakkan. Montgomery watt mencatat bahwa masa sebelum Perang Salib, kaum Muslim, Kristen, dan Jahudi di Spanyol dapat hidup berdampingan secara damai, hal ini disebabkan oleh pemahaman bahwa penaklukan Spanyol oleh dinasti Islam tidak dilatarbelakangi oleh semangat keagamaan bahkan sebaliknya menurut Watt gagasan-gagasan yang dominan pada waktu itu bukanlah gagasan keagamaan dalam hal ini Islami melainkan gagasan Arab sekular.
Penamaan “Perang Salib” tidak serta merta muncul, bahkan menurut para sejarawan, perang ini bisa saja dinamai dengan nama lain, tergantung dari sudut padang melihat pelaku dan maksud dari tujuan perang tersebut. Jika dilihat dari segi pelaku, maka perang ini dinamakan perang antara pasukan Timur dan pasukan Barat, jika dilihat dari segi tujuan maka daerah Persia dari satu sisi dan Yumania, Rumania, dan Rum dari sesi lain maka perang tersebut lebih kepada perang perebutan tahta dan kekuasaan untuk menguasai dunia, adapun pada masa pertengahan sejarah maka barulah muncu penamaan perang salib karena dilihat dari sisi yang lebih khusus yang berperang dalam kejadian tersebut yaitu antara pasukan Muslin melawan pasukan Nasrani Khususnya dari Eropa.
Pada masa modern ini, penamaan kejadian ini lebih kepada penjajahan orang-orang Barat kepada daerah-daerah Timur yang khususnya didiami oleh sebagian besar penduduk Muslim.
Ada beberapa faktor yang dijadikan dasar atau argumentasi Paus Urban II untuk menggerakkan umat Kristiani untuk melakukkan Perang Salib. Secara umum menurut Philip Khuri (811) perang salib merupakan rekasi orang Kristen di Eropa terhadap Muslim di Asia, yang telah menyerang dan menguasai wilayah Kristen sejak 632, tidak hanya di Suriah dan Asia Kecil, tetapi juga di Spanyol dan Sisilia. Kemudian faktor-faktor khusus yaang lebih spesifik (dan sekaligus mengambarkan peta kepentingan pihak-pihak yang yang terlibat dalam parang Salib) diantaranya adalah sebagai berikut:
Pertama, Pendudukan Kota Yerussalem oleh Dinasti Seljud dari tangan Imperium Bizantium. Dinasti Seljud merupakan kekaisaran Islam pertama Turki yang memerintah dunia Islam. Daerah pendudukannya lumayan luas, mencakup Asia Tengah dan Timur Tengah, terbentang dari Anatolia hingga Punjab (India) di Asia Selatan. Melalaui pertempuran Minzikert tahun 1071 M, militer Seljuk berhasil memukul mundur Bizantium yang apada saat itu bercokol di Palestina.
Kedua, kota Yerussalem merupakan kota suci umat Kristiani, karena mereka menyakini kota Yerussalem merupakan tempat kelahiran Yesus Kristus. Umat Kristiani biasa berzirah ke Yerussalem. Namun, ketika kota ini diduduki oleh suci mereka. Oleh karenanya, ketika, dikatakan merebut kembali kota, antusias dan semangat umat Kristiani menjadi membara.
Ketiga, faktor perpecahan yang terjadi antara umat Kristiani sendiri di Eropa yang suka berperang antara sesama mereka. Paus Urban II berpandangan, dari pada berperang antara sesama mereka, akan jauh lebih baik kalau mereka berperang melawan musuh agama mereka. Perebutan Yerussalamen oleh Dinasti Seljuq menjadi momentum yang tepat untuk menciptakan musuh bersama (Common enemy) dalam rangka menyatukan semua kekuatan umat Kristiani Eropa.
Keempat, diantara alasan seruan perang Salib oleh Paus Urban II adalah adanya keretakan antara Gereja-gereja Timur dan Barat. Jadi seruan perang Salib ini diharapkan dapat mememulihkan kembali keretakan yang tumbuh di antara Gereja-gereja Timur dan Barat. (Karen Amstrong, 2003:252) Karena sejak 1009 hingga 1054 antara Gereja Yunani dan Gereja Roma mengalami perpecahan. (Philip K. Hitti, 2008:811)
Kelima, merurut Philip K. Hitti (2008:811) adalah kecenderungan gaya hidup nomaden dan militeristik suku-suku Teutonik-Jerman yang telah mengubah peta Eropa sejak mereka memasuki babak sejarah, dan perusahaan Makam Suci milik Gereja, tempat Ziarah ribuan orang Eropa yang kunci-kuncinya telah diserahkan pada 800 M kepada Charlemagne dengan berah dari Uskup Yerussalm oleh al-Hakim. Keadaan itu semakin parah karena pada peziarah merasa keberatan untuk melewati wilayah muslim di Asia Kecil.
2.2. Jalannya Perang Salib
Pada bulan maret 1096 M, Peter Sang Petapa berangkat dari Cologne membawa kira-kira 60.000 orang, yang terdiri dari bangsawan, kesatria, petani, para pendosa, dan peziarah menuju Konstatinopel. Pada waktu yang sama, Walter Sansavoir dari Poissy, seorang bangsawan Perancis, memimpin rombongan kira-kira 20.00 orang. Dua rombongan tentara Jerman lainya, pimpinan Folmkart dan Gottschalk memulai perjalanan bulan April 1096 M, Melalui Eropa Timur Menuju Konstatinopel. Sementara itu, Emich bersama 12.000 tentara Salib telah sampai di Spier pada Awal bulan Mei 1096 M.
Paus Urban II masih mengkhotbahkan Perang Salib di Perancis ketika tentara ini memulai perjalanan mereka. Boleh jadi mereka menganggap diri mereka sendiri sebagai tentara garda depan yang tak terpisahkan dari tentara salib yang baru meninggalkan Eropa pada Musim gugur. Rombongan Walter Sansavoir dengan amat berdisiplin berbasis langsung melalui Eropa Timur dan tiba di Konstatinopel pada akhir bulan Juli 1096 M.
Tentara Salib, terutama dari Jerman, telah pula menjadikan Perang Salib sebagai pembenaran untuk melampiaskan anti Semitisme yang ada di Eropa sejak berabad-abad. Mereka menyerang dan membantai orang-orang Yahudi sepanjang perjalanan. Mereka menganggap bahwa sebelum menyerang orang Islam yang melanggar kekuasaan Yesus di Yerussalem, orang Yahudiyang bertanggung jawabatas kematian Yesus harus dihukumterlebih dahulu Dengan kata lain,tentara salib Jerman terobsesi dengankedatangankedua Yesus danimpian politis massal tentang penaklukkan dunia.
Tentara salib pimpinan Emich secara sistematis menyerang orang Yahudi dalam perjalanan merekamelewati Balkhan. Padatanggal20Mei 1096 M, Emich beserta tentaranya menyulut pemberontakan para petani Kristen kota Spier melawan orang Yahudi yang menjadi majikan mereka. Bersama para petani, tentara Emich membantai orangYahudi. Ribuan mayat korban dibuang ke dalam sumur-sumur yang ada di kota tersebut. Tentara salib dibawah pimpinan Folkmart juga menjarah dan menumpahkan darah orang Yahudi yang mereka temukan sepanjang perjalanan. Di Hongaria, tentara salib pimpinan Folkmart ini, mencoba melakukan penjarahan di desa-desa dan pembantaian terhadap kaumYahudi, kena batunya. Mereka dihancurkan di Nitra, Hungaria, oleh orang-orang Yahudi dan tentara Hungaria yang marah. Tak lama kemudian, tentara Gottschalk juga dipaksa menyerah kepada tentara Hungaria di Pannonhalma.
Rombongan Peter Sang Petapa lebih berhasil, meskipun menderita korban amat besar selama perjalanan. Di Nish, pertempuran pecah di pasar ketika tentara salib mencoba membeli makanan. Banyak diantara mereka tewas dalam serangan hebat dan tiba-tiba dari penduduk setempat yang membenci tentara salib. Mereka yang selamat akhirnya tiba di Konstantinopel padabulan Agustus 1096 M. Tentara salib pimpinan Walter Sansavoir telah menunggu mereka sejak sebulan sebelumnya.
Periodesasi Perang Salib terdapat sepuluh periode, dalam Perang Salib memiliki banyak pertempuran-pertempuran yang timbul dengan tujuan yang sama. Perang Saib yang paling besar di antara periode lainnya adalah perang Salib III yang terjadi pada tahun 1189-1192 perseteruan yang paling hebat melawan Shalahudin atau Saladin. “Perang Salib ketiga juga pantas dicatat karena keikutsertaan beberapa tokoh penting kerajaan, termasuk Richard The Lionheart dari Inggris dan Philip II dari Prancis.” ( Fuller, 2010:131).
Yerusalem menjadi tempat perebutan antar pihak yang berbeda agama (Kaum Islam dan kaum Kristen) yang berada di wilayah Israel-Palestina sekarang karena tempat tersebut merupakan kota suci, menurut orang Islam Yerusalem merupakan tempat Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW tepatnya di Mesjid al-Aqsa dan menurut orang Kristen Yerusalem merupakan kota suci tempat meninggal dan bangkitnya kembali Nabi Isa (Yesus).
Yerusalem berhasil ditaklukan oleh kaum Islam pada masa pemerintahan Khalifah Umardi bawah komando Khalid bin Walid.“Penaklukan tersebut mengakhiri kekuasaan Yunani-Romawi yang telah bercokol di wilayah tersebut selama beberapa abad. Sejak saat itu pula, seluruh wilayah tersebut berada di bawah naungan kekuasaan Islam.” (Murad, 2007:96).
Pada masa ini kondisi di Yerusalem masih kondusif kaum Kristen masih dibolehkan untuk berziarah, beribadah dan tidak ada sesuatu yang mengganggu mereka di tempat ini dikarenakan Khalifah Umar pemimpin dari kaum Islam dan Saint Sophronius pemimpin Kristen di Yerusalem membuat perjanjian damai dengan tidak ada diskriminasidi tempat tersebut.Tetapi keadaan mulai tidak kondusiftahun 1009 ketika dibawah kekuasaan masa Khalifah Abu Ali Manshur al-Hakim bi-Amrillah tidak mentaati lagi aturan yang ada diperjanjian sebelumnya, diamulai meneror orang-orang Kristen di Yerusalemdan sekitarnyaseperti Mesir, Perjanjian tersebut tidak berfungsi sampai meninggalnya Khalifah al-Hakimtahun 1021.
Penyebab munculnya Perang Salib adalah permohonan Alexius I kepada Paus Urbanus II untuk menolong Bizantium,membantu menahan tentara Islam yang menyerang wilayah Bizantiumdan merebut Yerusalem kembali.“Pada tahun 1095 Urbanus mengadakan konsili Clermont.”(Curtis, Langdan Petersen,2007:55).
Tepatnya tanggal 27 November Paus mendeklarasikan untuk berperang dengan sebutan Perang SalibI dalam pidatonya dihadapan orang-orang Eropa di kota Perancis dan akhirnya membangkitkan semangat keagamaan terhadap orang-orang Eropa, banyak yang ikutdalam pertempuran Perang SalibI, dalam Perang Salib I para Pasukan Salib berhasil menguasai Yerusalem yang dipimpin oleh Godfrey, tetapi setelah Perang Salib II terjadi, wilayah Yerusalem ditaklukan oleh pasukan Islam yang dipimpin oleh Shalahudin al-Ayyubitahun 1187.
Perang Salib berkaitan erat dengan perebutan Yerusalem, artinya Perang Salib terjadi di daerah Yerusalem dan sekitarnya.ketika berperang mereka menggunakan tanda-tanda salib pada pakaian perang, bendera, dan persenjataan seperti pedang dan perisai. Salib yang dibawa dalam peperangan yang berukuran besar sehingga keberadaan pasukan Kristen yang menggunakan simbol salib. “Perang Salib digunakan untuk menggambarkan perang tersebut karena pasukan Kristen menggunakan atribut keagamaan mereka, salib, pada saat berperang melawan pasukan Islam” (Solikhin, 2010:47).
2.3 Penyelesaian Perang Salib
Menciptakan perdamaian diantara pluralisme agama dan budaya, memang merupakan cita-cita bersama seluruh umat manusia seantero dunia. Karena itu konsep tolerans sebagai elemen penting dalam masyarakat ideal, selalu menjadi prinsip kebersamaan. Meskipun demikian, fanatisme berlebihan dan loyalitas mendalam terhadap agamanya, sering membuat mati hati umat manusia hingga melupakan pentingnya kebersamaan diantara perbedaan.
Hal ini yang melanda pemeluk agama Kristen dengan loyalitas tinggi pada paus dan kaum muslim yang menjadikan semangat jihad sebagai pandangan hidup, lalu berada pada posisi yang sama dalam merebut hegemoni. Konsekwensinya, konflik berdasarkan kepentingan dan warisan sejarah pun tidak dapat dihindari yang dalam sejarah dikenal sebagai perang salib.
Jatuhnya beberapa wilayah kekuasaan islam ketangan kaum salib membangkitkan kaum muslimin menghimpun kekuatan untuk menghadapi mereka. Dibawah komando Imaduddin Zangi, Gubernur Mosul kaum muslimin bergerak maju membendung serangan pasukan salib. Bahkan, mereka berhasil merebut kembali Allepo Edessa.
Setelah Imadudin Zangi wafat tahun 1146, posisinya digantikan oleh putranya, Naruddin Zangi. Ia meneruskan cita-cita ayahnya yang ingin membebaskan negara-negara islam ditimur dari cengkraman kaum salib. Kota-kota yang berhasil dibebaskan antara lain Damaskus (1147), Antiolia (1149), dan Mesir (1169).
Kemenangan kaum muslimin ini, terutama setelah munculnya Salahuddin Yusuf Al-Ayyubi (Saladin) di Mesir yang berhasil membebaskan Baitulmakdis pada 2oktober 1187. Ekspedisi ini dipimpin oleh raja-raja besar Eropa, seperti Frederick I, Richard I, dan Philip II.
Frederick yang memimpin divisi darat tewas ketika menyeberangi sungai Armenia, dekat kota Ruba’. Dua divisi lainnya yang menempuh jalur laut bertemu di Sisilia. Kemudian melanjutkan perjalanan ke Suriah (Syam).
Dalam keadaan demikian pihak Richard dan pihak Saladin sepakat untuk melakukan gencatan senjata dan membuat perjanjian. Inti perjanjian damai itu adalah daerah pedalaman akan menjadi milik kaum muslimin dan umat kristen yang akan berziarah ke Baitulmakdis akan terjamin keamanannya. Adapun daerah pesisir utara, arce, dan jaita berada dibawah kekuasaan tentara salib.
Bab III
Penutup
3.1 Kesimpulan
Perang salib terjadi dalam beberapa fase, setidaknya ada 2 fase. Fase pertama berlangsung antara tahun 1091 s/d 1291 M. Perang Salib kedua berlangsung antara tahun 1145 sampai dengan 1145. Perng salib pertana didasarkaan pada Khotbah Paus Urban II pada tahun 27 November 1095 pada konsili Clermont di depan para raja dan Ksatria Eropa untuk merebut kembali Kota Yerusalem yang diduduki oleh dinasti Seljud daru Turki.
Perang salib merupakan sebuah peristiwa peperangan yang terjadi dalam kurun waktu kurang lebih dua ratus tahun (1096-1292 M), yang mempertemukan Umat Islam dan Kristen Eropa demi mendapatkan kekuasaan atas wilayah Baitul Maqdis (Yerusalem). Dalam serangkaian Perang Salib ini telah memunculkan peran seorang tokoh yang cukup berjasa besar peranannya dalam mempertahankan Baitul Maqdis (Yerusalem), dia adalah seorang raja dan pahlawan umat Islam yaitu Shalahudin Al Ayyubi.
Paus Urban II masih mengkhotbahkan Perang Salib di Perancis ketika tentara ini memulai perjalanan mereka. Boleh jadi mereka menganggap diri mereka sendiri sebagai tentara garda depan yang tak terpisahkan dari tentara salib yang baru meninggalkan Eropa pada Musim gugur. Rombongan Walter Sansavoir dengan amat berdisiplin berbasis langsung melalui Eropa Timur dan tiba di Konstatinopel pada akhir bulan Juli 1096 M.
Daftar Pustaka
Maslani dan Ratu Suntiah. 2010. Sejarah Peradapan Islam. Bandung: CV. Insan Mandiri.
Dedi Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam, (Bandung: CV. Pustaka Setia, 2008), h. 171-175.
Maslani dan Ratu Suntiah, Sejarah Peradapan Islam, (Bandung: CV. Insan Mandiri, 2010). h. 137-138.
Karen Amstrong.2003. Perang Suci: Dari Perang Salib Hingga Perang Teluk (Diterjemahkan dari buku Holy War: The Crusades and Their Impact on Today’s World). PT. Serambi Ilmu Semesta.
Philip K. Hitti.2008. History of The Arabs (Terjemahan Indonesia). PT Serambi Ilmu Semesta. Jakarta.
Komentar
Posting Komentar