MAKALAH SEJARAH ASIA BARAT OLEH MARINUS HELUKA.

 MAKALAH

SEJARAH ASIA BARAT 

Dibuat untuk memperoleh nilai pada 

Mata Kuliah Sejarah Asia Baratwß


Oleh:

Marinus Heluka    

1706101020066


JURUSAN PENDIDIKAN SEJARAH

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SYIAH KUALA

DARUSSALAM, BANDA ACEH

2020


Kata Pengantar

Puji dan syukur, penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, atas kebaikannya  yang mana ia senantiasa memberikan semangat dan kekuatan dalam hidup saya yang begitu indah.

Karena atas campur tangan Tuhan sehingga penulis dapat menyusun makalah ini dengan efesien, tak lupa juga penulis mengucapkan terimakasih kepada bapa Muhammad Haikal, S.Pd M.Pd selaku dosen pembimbing mata kuliah Sejarah Asia Barat.

Makalah ini banyak kekurangan, maka penulisan memohonn agar para pembaca memberikan saran dan kritik.


                            Banda Aceh, 15 Agustus 2020                                                                  

Bab I

Pendahuluan

1.Latar Belakang 

Perang salib merupakan sebuah peristiwa peperangan yang terjadi dalam kurun waktu kurang lebih dua ratus tahun (1096-1292 M), yang mempertemukan Umat Islam dan Kristen Eropa demi mendapatkan kekuasaan atas wilayah Baitul Maqdis (Yerusalem). Dalam serangkaian Perang Salib ini telah memunculkan peran seorang tokoh yang cukup berjasa besar peranannya dalam mempertahankan Baitul Maqdis (Yerusalem), dia adalah seorang raja dan pahlawan umat Islam yaitu Shalahudin Al Ayyubi.

Perang Salib merupakan peristiwa berdarah yang memperebutkan satu kota suci Agama Tauhid (Islam, Kristen dan Yahudi) yakni Baitul Maqdis (Jerusalem). Perang Salib juga merupakan perang terbesar sepanjang sejarah yang berlansung kurang lebih dua abad lamanya, yakni sejak tahun 1095 sampai 1291. Gelombang Perang Salib yan dicetuskan oleh pihak Kristen Eropa (Barat) terhadap Umat Muslim (Timur) karena keinginan kaum Kristen untuk menjadikan tempat Suci Umat Kristen yakni Gereja Makam Suci Kristus masuk ke dalam wilayah perlindungan mereke.

Istilah Perang Salib atau Perang Suci juga digunakan untuk ekspedisi-ekspedisi tentang Kristen yang terjadi selama abad pertengahan di wilayah Arab terhadap Non-Kristen secara berulang-ulang, mulai abad ke 11 sampai abad ke 13 (1097-1292 M), dengan misi untuk membebaskan Baitul Maqdis (Yerusalem) dari kekuasaan Islam dan mendirikan Kerajaan Kristen Eropa di Wilayah Timur.

Namun pada kenyataannya, Perang Salib terjadi karena beberapa sebab yang melatar belakanginya. Sebab-sebab yang menimbulkan terjadinya perang Salib salam 2 Abad lamanya telah melahirkan perseteruan antara umat Islam dan Kristen. Peristiwa Perang Salib terjadi karena pertama, bermula ketika kekalahan Raja Romawi Timur (Bizantium) Romonos IV Diogenes dalam perang Manzikert (26 Agustus 1071 M) menghaadapi Rurki Saljuk di bawah pimpinan Alp Arselan yang telah berhasil menguasai wilayah kekuasaan Byzantium. Dan kedua, karena propaganda seorang Pendeta yang bernama Peter the Hermit dan para peziarah yang sedang berkunjung ke Baitul Maqdis (Yerusalem) sejak 1076, telah mendapatkan perlakuan yang tidak layak oleh tentara Turki Saljuk, yang telah mengganggu para Peziarah yang mengadakan perjalanan ke tanah suci. Dan melaporkan kekacauan yang dialaminya di Baitul Maqds kepada Raja Byzantium, Alexius I Comnenus.


1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang, maka adapun pokok permasalahan sebagai berikut:

1 Bagaimana latar belakang terjadinya Perang Salib?

2 Bagaimana Jalannya Perang Salib?

3 Bagaimana Penyelesaian Perang Salib? 

1.3 Tujuan 

Berdasarkan rumusan masalah, adapun tujuannya sebagai berikut:

1 untuk mengetahui latar belakang terjadinya Perang Salib

2 untuk mengetahui jalannya Perang Salib

3 untuk mengetahui penyelesaian perang Salib.


BAB II

Pembahasan 


2.1  Latar Belakang Terjadinya Perang Salib 

Perang salib terjadi dalam beberapa fase, setidaknya ada 2 fase. Fase pertama berlangsung antara tahun 1091 s/d 1291 M. Perang Salib kedua berlangsung antara tahun 1145 sampai dengan 1145. Perng salib pertana didasarkaan pada Khotbah Paus Urban II pada tahun 27 November 1095 pada konsili Clermont di depan para raja dan Ksatria Eropa untuk merebut kembali Kota Yerusalem yang diduduki oleh dinasti Seljud daru Turki. Momentum pendudukan atau perebutan Yerussalem oleh Dinasti Saljuq dari tangan imperium Konstain dianggap oleh paus Urban sebagai momen strategis untuk menyatukan seluruh raja-raja Kristen di Eropa yang pada saat itu cenderung berkonflik antara mereka sendiri.

Perang salib merupakan sebuah peristiwa peperangan yang terjadi dalam kurun waktu kurang lebih dua ratus tahun (1096-1292 M), yang mempertemukan Umat Islam dan Kristen Eropa demi mendapatkan kekuasaan atas wilayah Baitul Maqdis (Yerusalem). Dalam serangkaian Perang Salib ini telah memunculkan peran seorang tokoh yang cukup berjasa besar peranannya dalam mempertahankan Baitul Maqdis (Yerusalem), dia adalah seorang raja dan pahlawan umat Islam yaitu Shalahudin Al Ayyubi. 

Menggambarkan perjumpaan Islam dan Kristen dalam sejarah dapat diberi dua warna yang mencolok yakni warna cerah yang meliputi kehidupan bersama dalam hubungan yang damai, saling percaya dan memperkaya. Warna yang kedua warna kelam yang meliputi pertentangan, kecurigaan, permusuhan bahkan perang. Kedua warna ini lahir sebagai konsekwensi dari interaksi yang tak terhindarkan dan sadar atau tidak, dialami oleh kedua belah pihak.

Perluasan kekuasaan Islam dengan cara militer (perang) sampai ke daerah-daerah Kristen seperti pendudukan Spanyol bagian selatan dan daerah-daerah di Italia, antara lain Sisilia atau Perancis bagian selatan menimbulkan konsekwensi-konsekwensi tertentu, misalnya saja tersingkirnya kekuasaan lama oleh penguasa baru. Di Spanyol bangsawan Visighot terpaksa melarikan diri setelah pendudukan Dinasti Islam atas Spanyol. Namun dipihak lain sebuah kehidupan antarbudaya dan antaragama tidak dapat dielakkan. Montgomery watt mencatat bahwa masa sebelum Perang Salib, kaum Muslim, Kristen, dan Jahudi di Spanyol dapat hidup berdampingan secara damai, hal ini disebabkan oleh pemahaman bahwa penaklukan Spanyol oleh dinasti Islam tidak dilatarbelakangi oleh semangat keagamaan bahkan sebaliknya menurut Watt gagasan-gagasan yang dominan pada waktu itu bukanlah gagasan keagamaan dalam hal ini Islami melainkan gagasan Arab sekular.

Penamaan “Perang Salib” tidak serta merta muncul, bahkan menurut para sejarawan, perang ini bisa saja dinamai dengan nama lain, tergantung dari sudut padang melihat pelaku dan maksud dari tujuan perang tersebut. Jika dilihat dari segi pelaku, maka perang ini dinamakan perang antara pasukan Timur dan pasukan Barat, jika dilihat dari segi tujuan maka daerah Persia dari satu sisi dan Yumania, Rumania, dan Rum dari sesi lain maka perang tersebut lebih kepada perang perebutan tahta dan kekuasaan untuk menguasai dunia, adapun pada masa pertengahan sejarah maka barulah muncu penamaan perang salib karena dilihat dari sisi yang lebih khusus yang berperang dalam kejadian tersebut yaitu antara pasukan Muslin melawan pasukan Nasrani Khususnya dari Eropa.

Pada masa modern ini, penamaan kejadian ini lebih kepada penjajahan orang-orang Barat kepada daerah-daerah Timur yang khususnya didiami oleh sebagian besar penduduk Muslim.

Ada beberapa faktor yang dijadikan dasar atau argumentasi Paus Urban II untuk menggerakkan umat Kristiani untuk melakukkan Perang Salib. Secara umum menurut Philip Khuri (811) perang salib merupakan rekasi orang Kristen di Eropa terhadap Muslim di Asia, yang telah menyerang dan menguasai wilayah Kristen sejak 632, tidak hanya di Suriah dan Asia Kecil, tetapi juga di Spanyol dan Sisilia. Kemudian faktor-faktor khusus yaang lebih spesifik (dan sekaligus mengambarkan peta kepentingan pihak-pihak yang yang terlibat dalam parang Salib) diantaranya adalah sebagai berikut:

Pertama, Pendudukan Kota Yerussalem oleh Dinasti Seljud dari tangan Imperium Bizantium. Dinasti Seljud merupakan kekaisaran Islam pertama Turki yang memerintah dunia Islam. Daerah pendudukannya lumayan luas, mencakup Asia Tengah dan Timur Tengah, terbentang dari Anatolia hingga Punjab (India) di Asia Selatan. Melalaui pertempuran Minzikert tahun 1071 M, militer Seljuk berhasil memukul mundur Bizantium yang apada saat itu bercokol di Palestina.

Kedua, kota Yerussalem merupakan kota suci umat Kristiani, karena mereka menyakini kota Yerussalem merupakan tempat kelahiran Yesus Kristus. Umat Kristiani biasa berzirah ke Yerussalem. Namun, ketika kota ini diduduki oleh suci mereka. Oleh karenanya, ketika, dikatakan merebut kembali kota, antusias dan semangat umat Kristiani menjadi membara.

Ketiga, faktor perpecahan yang terjadi antara umat Kristiani sendiri di Eropa yang suka berperang antara sesama mereka. Paus Urban II berpandangan, dari pada berperang antara sesama mereka, akan jauh lebih baik kalau mereka berperang melawan musuh agama mereka. Perebutan Yerussalamen oleh Dinasti Seljuq menjadi momentum yang tepat untuk menciptakan musuh bersama (Common enemy) dalam rangka menyatukan semua kekuatan umat Kristiani Eropa.

Keempat, diantara alasan seruan perang Salib oleh Paus Urban II adalah adanya keretakan antara Gereja-gereja Timur dan Barat. Jadi seruan perang Salib ini diharapkan dapat mememulihkan kembali keretakan yang tumbuh di antara Gereja-gereja Timur dan Barat. (Karen Amstrong, 2003:252) Karena sejak 1009 hingga 1054 antara Gereja Yunani dan Gereja Roma mengalami perpecahan. (Philip K. Hitti, 2008:811)

Kelima, merurut Philip K. Hitti (2008:811) adalah kecenderungan gaya hidup nomaden dan militeristik suku-suku Teutonik-Jerman yang telah mengubah peta Eropa sejak mereka memasuki babak sejarah, dan perusahaan Makam Suci milik Gereja, tempat Ziarah ribuan orang Eropa yang kunci-kuncinya telah diserahkan pada 800 M kepada Charlemagne dengan berah dari Uskup Yerussalm oleh al-Hakim. Keadaan itu semakin parah karena pada peziarah merasa keberatan untuk melewati wilayah muslim di Asia Kecil.

2.2. Jalannya Perang Salib

Pada bulan maret 1096 M, Peter Sang Petapa berangkat dari Cologne membawa kira-kira 60.000 orang, yang terdiri dari bangsawan, kesatria, petani, para pendosa, dan peziarah menuju Konstatinopel. Pada waktu yang sama, Walter Sansavoir dari Poissy, seorang bangsawan Perancis, memimpin rombongan kira-kira 20.00 orang. Dua rombongan tentara Jerman lainya, pimpinan Folmkart dan Gottschalk memulai perjalanan bulan April 1096 M, Melalui Eropa Timur Menuju Konstatinopel. Sementara itu, Emich bersama 12.000 tentara Salib telah sampai di Spier pada Awal bulan Mei 1096 M.

Paus Urban II masih mengkhotbahkan Perang Salib di Perancis ketika tentara ini memulai perjalanan mereka. Boleh jadi mereka menganggap diri mereka sendiri sebagai tentara garda depan yang tak terpisahkan dari tentara salib yang baru meninggalkan Eropa pada Musim gugur. Rombongan Walter Sansavoir dengan amat berdisiplin berbasis langsung melalui Eropa Timur dan tiba di Konstatinopel pada akhir bulan Juli 1096 M.

Tentara Salib, terutama dari Jerman, telah pula menjadikan Perang Salib sebagai pembenaran untuk melampiaskan anti Semitisme yang ada di Eropa sejak berabad-abad. Mereka menyerang dan membantai orang-orang Yahudi sepanjang perjalanan. Mereka menganggap bahwa sebelum menyerang orang Islam yang melanggar kekuasaan Yesus di Yerussalem, orang Yahudiyang bertanggung jawabatas kematian Yesus harus dihukumterlebih dahulu Dengan kata lain,tentara  salib  Jerman  terobsesi  dengankedatangankedua  Yesus  danimpian politis massal tentang penaklukkan dunia.

Tentara salib pimpinan Emich secara sistematis menyerang orang Yahudi dalam perjalanan merekamelewati Balkhan. Padatanggal20Mei  1096  M,  Emich beserta tentaranya  menyulut  pemberontakan para  petani  Kristen kota Spier  melawan orang  Yahudi  yang  menjadi majikan mereka. Bersama para petani, tentara Emich membantai orangYahudi. Ribuan mayat korban dibuang ke dalam sumur-sumur yang ada di kota tersebut. Tentara  salib  dibawah  pimpinan  Folkmart  juga  menjarah  dan menumpahkan  darah  orang  Yahudi  yang  mereka temukan  sepanjang perjalanan. Di Hongaria, tentara salib pimpinan Folkmart ini, mencoba melakukan  penjarahan  di desa-desa  dan  pembantaian  terhadap  kaumYahudi,  kena  batunya.  Mereka dihancurkan  di Nitra,  Hungaria,  oleh orang-orang Yahudi   dan tentara Hungaria yang marah.   Tak lama kemudian,  tentara  Gottschalk  juga  dipaksa  menyerah  kepada  tentara Hungaria di Pannonhalma.

Rombongan Peter Sang Petapa lebih berhasil, meskipun menderita korban amat besar selama perjalanan. Di Nish, pertempuran pecah di pasar ketika tentara salib mencoba membeli makanan. Banyak diantara mereka tewas dalam serangan hebat   dan tiba-tiba dari penduduk setempat yang membenci tentara salib. Mereka yang selamat akhirnya  tiba di Konstantinopel  padabulan  Agustus  1096  M.  Tentara salib pimpinan Walter Sansavoir telah menunggu mereka sejak sebulan sebelumnya.

Periodesasi Perang Salib terdapat sepuluh periode, dalam Perang Salib memiliki banyak pertempuran-pertempuran yang timbul dengan tujuan yang sama. Perang Saib yang paling besar di antara periode lainnya adalah perang Salib III yang terjadi pada tahun  1189-1192  perseteruan  yang  paling  hebat melawan  Shalahudin atau Saladin. “Perang Salib ketiga juga pantas dicatat karena keikutsertaan beberapa tokoh penting kerajaan, termasuk Richard The Lionheart dari Inggris dan Philip II dari Prancis.” ( Fuller, 2010:131).

Yerusalem menjadi tempat perebutan antar pihak yang berbeda agama (Kaum  Islam  dan  kaum  Kristen) yang  berada  di  wilayah  Israel-Palestina sekarang  karena  tempat  tersebut  merupakan  kota  suci,  menurut  orang  Islam Yerusalem merupakan tempat Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW tepatnya di Mesjid  al-Aqsa  dan  menurut  orang  Kristen  Yerusalem  merupakan  kota  suci tempat  meninggal  dan  bangkitnya  kembali  Nabi  Isa  (Yesus). 

Yerusalem berhasil ditaklukan oleh kaum Islam pada masa pemerintahan Khalifah Umardi  bawah  komando  Khalid  bin  Walid.“Penaklukan  tersebut  mengakhiri kekuasaan  Yunani-Romawi  yang  telah  bercokol  di  wilayah  tersebut  selama beberapa abad. Sejak saat itu pula, seluruh wilayah tersebut berada di bawah naungan  kekuasaan  Islam.”  (Murad,  2007:96).

 Pada  masa  ini  kondisi  di Yerusalem  masih  kondusif  kaum  Kristen  masih  dibolehkan  untuk  berziarah, beribadah  dan  tidak  ada  sesuatu  yang  mengganggu  mereka  di  tempat  ini dikarenakan Khalifah Umar pemimpin dari kaum Islam dan Saint Sophronius pemimpin  Kristen di Yerusalem  membuat perjanjian damai dengan tidak ada diskriminasidi  tempat  tersebut.Tetapi keadaan  mulai  tidak  kondusiftahun 1009  ketika  dibawah  kekuasaan  masa  Khalifah  Abu  Ali  Manshur  al-Hakim bi-Amrillah tidak  mentaati  lagi aturan  yang ada diperjanjian sebelumnya, diamulai  meneror  orang-orang  Kristen  di  Yerusalemdan  sekitarnyaseperti Mesir, Perjanjian  tersebut  tidak  berfungsi sampai  meninggalnya  Khalifah  al-Hakimtahun 1021.

Penyebab  munculnya  Perang  Salib  adalah  permohonan  Alexius  I kepada  Paus  Urbanus  II  untuk  menolong  Bizantium,membantu  menahan tentara  Islam  yang  menyerang  wilayah  Bizantiumdan  merebut  Yerusalem kembali.“Pada tahun 1095 Urbanus mengadakan konsili Clermont.”(Curtis, Langdan Petersen,2007:55).

Tepatnya   tanggal   27   November Paus mendeklarasikan  untuk  berperang dengan  sebutan Perang SalibI dalam pidatonya   dihadapan   orang-orang   Eropa   di   kota   Perancis   dan   akhirnya membangkitkan  semangat  keagamaan  terhadap  orang-orang  Eropa,  banyak yang ikutdalam  pertempuran  Perang  SalibI,  dalam  Perang  Salib  I  para Pasukan  Salib  berhasil  menguasai  Yerusalem  yang  dipimpin  oleh Godfrey, tetapi  setelah  Perang  Salib  II terjadi,  wilayah  Yerusalem ditaklukan  oleh pasukan Islam yang dipimpin oleh Shalahudin al-Ayyubitahun 1187.

Perang  Salib  berkaitan  erat  dengan  perebutan  Yerusalem,  artinya Perang  Salib  terjadi  di  daerah  Yerusalem  dan  sekitarnya.ketika  berperang mereka  menggunakan  tanda-tanda  salib  pada  pakaian  perang,  bendera,  dan persenjataan seperti pedang dan perisai. Salib yang dibawa dalam peperangan yang    berukuran    besar    sehingga    keberadaan    pasukan    Kristen    yang menggunakan simbol salib. “Perang Salib digunakan untuk menggambarkan perang  tersebut  karena  pasukan  Kristen  menggunakan  atribut  keagamaan mereka,  salib,  pada  saat  berperang  melawan  pasukan  Islam”  (Solikhin, 2010:47).

2.3 Penyelesaian Perang Salib

Menciptakan perdamaian diantara pluralisme agama dan budaya, memang merupakan cita-cita bersama seluruh umat manusia seantero dunia. Karena itu konsep tolerans sebagai elemen penting dalam masyarakat ideal, selalu menjadi prinsip kebersamaan. Meskipun demikian, fanatisme berlebihan dan loyalitas mendalam terhadap agamanya, sering membuat mati hati umat manusia hingga melupakan pentingnya kebersamaan diantara perbedaan.

Hal ini yang melanda pemeluk agama Kristen dengan loyalitas tinggi pada paus dan kaum muslim yang menjadikan semangat jihad sebagai pandangan hidup, lalu berada pada posisi yang sama dalam merebut hegemoni. Konsekwensinya, konflik berdasarkan kepentingan dan warisan sejarah pun tidak dapat dihindari yang dalam sejarah dikenal sebagai perang salib.

Jatuhnya beberapa wilayah kekuasaan islam ketangan kaum salib membangkitkan kaum muslimin menghimpun kekuatan untuk menghadapi mereka. Dibawah komando Imaduddin Zangi, Gubernur Mosul kaum muslimin bergerak maju membendung serangan pasukan salib. Bahkan, mereka berhasil merebut kembali Allepo Edessa.

Setelah Imadudin Zangi wafat tahun 1146, posisinya digantikan oleh putranya, Naruddin Zangi. Ia meneruskan cita-cita ayahnya yang ingin membebaskan negara-negara islam ditimur dari cengkraman kaum salib. Kota-kota yang berhasil dibebaskan antara lain Damaskus (1147), Antiolia (1149), dan Mesir (1169).

Kemenangan kaum muslimin ini, terutama setelah munculnya Salahuddin Yusuf Al-Ayyubi (Saladin) di Mesir yang berhasil membebaskan Baitulmakdis pada 2oktober 1187. Ekspedisi ini dipimpin oleh raja-raja besar Eropa, seperti Frederick I, Richard I, dan Philip II.

Frederick yang memimpin divisi darat tewas ketika menyeberangi sungai Armenia, dekat kota Ruba’. Dua divisi lainnya yang menempuh jalur laut bertemu di Sisilia. Kemudian melanjutkan perjalanan ke Suriah (Syam).

Dalam keadaan demikian pihak Richard dan pihak Saladin sepakat untuk melakukan gencatan senjata dan membuat perjanjian. Inti perjanjian damai itu adalah daerah pedalaman akan menjadi milik kaum muslimin dan umat kristen yang akan berziarah ke Baitulmakdis akan terjamin keamanannya. Adapun daerah pesisir utara, arce, dan jaita berada dibawah kekuasaan tentara salib.

Bab III

Penutup

3.1 Kesimpulan

Perang salib terjadi dalam beberapa fase, setidaknya ada 2 fase. Fase pertama berlangsung antara tahun 1091 s/d 1291 M. Perang Salib kedua berlangsung antara tahun 1145 sampai dengan 1145. Perng salib pertana didasarkaan pada Khotbah Paus Urban II pada tahun 27 November 1095 pada konsili Clermont di depan para raja dan Ksatria Eropa untuk merebut kembali Kota Yerusalem yang diduduki oleh dinasti Seljud daru Turki.

Perang salib merupakan sebuah peristiwa peperangan yang terjadi dalam kurun waktu kurang lebih dua ratus tahun (1096-1292 M), yang mempertemukan Umat Islam dan Kristen Eropa demi mendapatkan kekuasaan atas wilayah Baitul Maqdis (Yerusalem). Dalam serangkaian Perang Salib ini telah memunculkan peran seorang tokoh yang cukup berjasa besar peranannya dalam mempertahankan Baitul Maqdis (Yerusalem), dia adalah seorang raja dan pahlawan umat Islam yaitu Shalahudin Al Ayyubi.

Paus Urban II masih mengkhotbahkan Perang Salib di Perancis ketika tentara ini memulai perjalanan mereka. Boleh jadi mereka menganggap diri mereka sendiri sebagai tentara garda depan yang tak terpisahkan dari tentara salib yang baru meninggalkan Eropa pada Musim gugur. Rombongan Walter Sansavoir dengan amat berdisiplin berbasis langsung melalui Eropa Timur dan tiba di Konstatinopel pada akhir bulan Juli 1096 M.

Daftar Pustaka

Maslani dan Ratu Suntiah. 2010.  Sejarah Peradapan Islam. Bandung: CV. Insan   Mandiri.

Dedi Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam, (Bandung: CV. Pustaka Setia, 2008), h. 171-175.

Maslani dan Ratu Suntiah, Sejarah Peradapan Islam, (Bandung: CV. Insan Mandiri, 2010). h. 137-138.

Karen   Amstrong.2003.   Perang   Suci:   Dari   Perang   Salib   Hingga   Perang   Teluk (Diterjemahkan dari buku Holy War: The Crusades and Their Impact on Today’s World). PT. Serambi Ilmu Semesta.

Philip  K.  Hitti.2008.  History  of  The  Arabs  (Terjemahan  Indonesia).  PT  Serambi  Ilmu Semesta. Jakarta.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

PELANTIKAN BADAN PENGURUS HARIAN (BPH) HIMPUNAN MAHASISWA PAPUA-ACEH, PERIODE 2019/2020, KOTA STUDI PROVINSI ACEH.

Bangsa Papua: Mengucapkan selamat memperingati HUT RI yang ke 76 tahun.